info@jelajahweb.com +(00) 123-345-11
Have Question

Send Message

detail

blog-detail-img.jpg

Pemuda Ingin Akses Kesehatan Reproduksi

  • Mar 11, 2020
  • madin

Pemuda Indonesia menginginkan akses informasi dan layanan kesehatan reproduksi yang utuh serta menyeluruh. Keterbatasan kedua hal itu menjebak pemuda dalam perilaku seksual berisiko. Situasi itu juga bisa menghambat Indonesia mencapai target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Keinginan itu disampaikan sejumlah pemuda anggota Delegasi Indonesia untuk Pertemuan Tingkat Tinggi Nairobi dalam rangka Peringatan 25 Tahun Konferensi Kependudukan dan Pembangunan Internasional di Nairobi, Kenya, Rabu (13/11/2019).

”Pemerintah sebenarnya sudah memberikan informasi dan layanan kesehatan reproduksi, tetapi pelaksanaannya belum sesuai harapan pemuda,” kata Fika Febriana dari Aliansi Satu Visi.

Informasi dan layanan kesehatan reproduksi itu belum bisa menjangkau semua pemuda, khususnya yang ada di luar kolah, pemuda dengan disabilitas, dan pemuda terpinggirkan. Akibatnya, sebagian besar pemuda belum mampu mengambil keputusan berdasarkan informasi yang lengkap dan bertanggung jawab meski itu menyangkut tubuhnya.

Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2017 menunjukkan hal itu. Sebanyak 7,8 persen remaja laki-laki dan 1,5 persen remaja perempuan pernah melakukan seks pranikah. Namun, 75,4 persennya tak menggunakan alat kontrasepsi dan lebih dari 60 persen remaja tak tahu tentang penyakit infeksi menular seksual.

Pendidikan kesehatan reproduksi masih menjadi hal sulit di masyarakat, termasuk dalam keluarga. Banyak orangtua tak memberikan informasi kesehatan seksual yang memadai kepada anaknya. Informasi banyak didapat anak dari teman, internet, atau sumber lain yang kebenarannya sering kali sulit dipertanggungjawabkan.

”Pendidikan kesehatan reproduksi bukan soal benar atau salah, melainkan bekal bagi pemuda untuk bisa mengambil keputusan secara benar dan bertanggung jawab, Auliady, Co-Director Hollaback!Jakarta.

Orangtua, termasuk guru di sekolah, juga banyak yang tergagap saat anak mereka menanyakan hal-hal terkait perkembangan kesehatan reproduksi mereka. Orangtua sering kali hanya melarang anak menjauhi seks bebas, menakut-nakuti dengan sanksi berbagai norma di masyarakat, tanpa memberikan pengetahuan kepada anak bagaimana mengelola dorongan seksual saat muncul.

Koordinator Komunikasi Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia Ferena Debineva mengingatkan, berlarut-larutnya keterbatasan akses informasi dan layanan kesehatan reproduksi dan seksual bisa membuat Indonesia gagal mencapai target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2030. SDG menghendaki tidak seorang pun tertinggal dalam pembangunan, termasuk perempuan dan remaja. "Indonesia akan makin tertinggal dari komitmen global dalam pemenuhan hak kesehatan reproduksi,” katanya.

Terkait layanan kesehatan reproduksi, Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Dwi Listyawardani, mengatakan, hingga Desember 2018, pemerintah memiliki 6.204 puskesmas dengan pelayanan kesehatan ramah remaja. BKKBN juga mendirikan 6.892 pusat informasi dan konseling remaja melalui program Generasi Berencana atau Genre.

Marthilda Christin Finsae dari Instituta Hak Asasi Perempuan, Kupang, Nusa Tenggara Timur, menyoroti belum meratanya informasi dan fasilitas kesehatan reproduksi, khususnya di kawasan timur Indonesia. (M Zaid Wahyudi/ KOMPAS)

Sumber KOMPAS,  Jum'at 15 November 2019

Share This:
Tags: #bkkbn